Ketika kita mampu; ketika kita menyukai dan melakukan semua aktivitas kita dengan sukacita, apakah itu berarti kita memang harus ambil bagian di dalam semuanya?

Beberapa minggu terakhir, hidup gue seperti bola bekel yang dilempar ke sana kemari. Fun. Tapi ngga punya arah yang jelas. Kalau biasanya gue suka bilang: “belakangan hari-hari gue kayak lewat gitu aja. iya.. gue ngejalanin semua, tapi gue ngga merasa apa-apa. datar aja”; kali ini gue bisa bilang bahwa gue sangat menikmati semua yang gue lakukan. Meskipun tugas banyak, masih ada UTS dan kuis, persiapan Mukrab, rapat PanNat, kerjaan di rumah… tapi gue senang melakukan semuanya.

Saking senangnya, gue lupa kalo gue manusia terbatas yang cuma punya dua tangan, dua kaki, satu jiwa, satu kepala, tapi banyak pikiran. (lho?!) Hehehe. Yah… meskipun dari dulu udah sering diingetin, gue selalu susah memilih dan menentukan prioritas. Semua dibawa senang. Jadinya ya… semua pengen dikerjain. Hehe. Minggu lalu akhirnya gue kena sindrom kecapekan tingkat parah.

Sulit ya, buat benar-benar memahami bahwa ngga semua hal yang baik untuk dilakukan itu berguna. Tapi memang pada akhirnya kita harus bisa membedakan mana yang baik dan berguna dari yang baik aja. Kenapa demikian? Karena kalo ngga gitu, gerakan kita bakal ngawur, kayak bola bekel tadi… dan energi kita terkuras untuk hal-hal yang sebenarnya ngga essensial.

Huah. Terus terang, gue masih belajar buat benar-benar bisa commit sama prioritas-prioritas gue, buat ngga sembarangan mengaitkan segala sesuatu dengan mood gue (kalo senang, hayu… kalo ngga, yuk dadah yuk bye2. hehehe). Pe-er gue tuh, buat beberapa bulan ke depan. *Dukung dan doakan saya yaa. Halah. ;-)

- cheers to all –