A Bloody Story – The End.
Posted by rNest on May 7, 2009
… Sebelum baca akhirnya, baca dulu awalnya: A Bloody Story – The Beginning.
Suatu pagi di sofa-sofa depan Lab SI… kalau ngga salah sih, waktu itu saya, Meliza dan Seli sedang nungguin Stevie sambil nonton Sailormoon Live Action. Hehehe. Tiba-tiba Puja lewat, trus ngasih selamat aja.
Hee? Ada apa ini?? Ternyata Darah Biru lolos ke semifinal tingkat lokal a.k.a nasional. Which means, the work begins. Hehehee.
Berhubung minggu depannya harus ke Jakarta untuk presentasi di depan para juri, maka kegiatan koding-mengkoding dan persiapan presentasi pun dimulai. Padahal minggu itu boleh dibilang cukup hectic juga. Mulai dari wisudaan, LPJ akhir kepengurusan DE HMIF 2008/2009, kuis IB, WL Jumatan PMK,… Tapi entah kenapa saya bisa tenaang aja melalui semuanya. Ngga mau stress. Ngga mau panik. Yang penting kerjakan yang terbaik yang saya bisa usahakan. If God wants me to get through to the finals, He’ll open the way. But if I don’t get through, there must be something He wants me to learn about.
Hari Rabu jam 11, berbekal roti bakar dari abaang dan minuman hasil beli depan gerbang Mesjid Salman, saya berangkat ke Jakarta bareng Puja, Titz dan Andru. Tentunya, masih dengan dresscode biru (*untungnya ga kotak-kotak).
Sampe di gedung BEJ, yang pertama saya rasakan adalah lapaaar mencium aroma dari Starbucks. Aaaarrrggghh. Tapi persiapan presentasi harus beres dulu. Btw ya, kesan yang saya dapat setelah menginjakkan kaki di gedung BEJ adalah: saya ngga mau kerja di tempat kayak gitu kalo udah gede nanti. Keliatannya sangat penuh tekanan. Sibuk dan ‘dingin’. Brrrr.
Hmm.. yang saya heran adalah, saya ngga takut waktu presentasi. AC yang dingin sempat bikin saya khawatir bakal grogi, susah gerak dan susah mikir waktu presentasi. Tapi kok si empat juri di depan saya ngga ngefek2 amat ya sama mental state saya? Mau mereka bikin tampang ngga tertarik, bisik-bisik sendiri, lihat-lihat layar laptop dan bukannya saya… Saya tetap tenang. Padahal dulu waktu ikut Tournoi d’Eloquence (semacam lomba pidato) di sekolah saya di Flone, tampang guru bahasa Inggris saya yang berkerut dikiiiit aja di kursi penonton (penonton loh, bukan juri) waktu saya pidato udah bikin saya down dan lose my cool sampe sempat hilang fokus.
Selesai mendengarkan komentar juri dan ditanya-tanya, akhirnya kita keluar dari ruang presentasi dengan pasrah. Hehehe. Foto dulu kaka..

Kita dikasih konsumsi kue kotak gitu. Kroketnya gaul. Isinya telur, daging sama mayonaise. Coba kroket di ITB. Isinya bihun sama wortel. Wkwkwk. Turun ke lantai 18. Pengen foto-foto di dalem area Microsoft, tapi ndak boleh sama Bapak Satpamnya. Akhirnya foto-foto seadanya di depan tulisan Microsoft di sebelah si Bapak.
Cari makan di Pacific Place di seberang gedung BEJ. Kok sepi yaaa? Jadi cem mall milik sendiri, saking sepinya. Belakangan sesudah balik ke Bandung baru tahu kalo tragedi pembunuhan seorang cewek di tangga darurat salah satu mall di Jakarta beberapa waktu lalu itu kejadiannya di si Pacific Place ini. Gyaaaaaaa.

Huee.. kayaknya kita salah pilih restoran gitu. Lahammm (baca: mahalll). Yang tadinya mau makan besar, akhirnya niatnya diurungkan dan makan kecil aja alias pesan eskrim2an. Tak apalah. Yang penting senang. Namanya juga mau pembalasan sesudah presentasi.
Yang bikin sepet tu, sesudah keluar dari si tempat makan, kita lewat tempat makan lain yang tulisannya: 20% off on Main Courses every Wednesday. Dan hari apakah hari itu saudara-saudaraku tercintaaa? Hari Rabu. Hehehee.
Foto-foto depan telur-telur raksasa… trus, pulang deh ke Bandung. Akhirnya kita jadi kok makan besar di rest area.
Malah ada yang makannya super besar alias porsi dobel. Hohoo.
Waktu tahu ngga lolos ke tahap final, rasanya macem-macem. Di satu sisi, merasa “ya iyalah.. ngga liat apa siapa yang lolos final?” Hehehe. Di sisi lain, “yah.. ngga lolos final.. padahal pengeen banget bisa presentasi lagi.” Di sisi lain lagi, “kurangnya kemarin di mana ya, waktu presentasi?”
Hayoo, berapa dimensi perasaan saya? Hohooo.
Overall, saya senang dan bangga boleh ambil bagian di tim ini. Makasih Pujaa, dah ngajakin ikutan timnya. Makasih juga Tito, Andruu dah gabung sama timnya Puja. “Sapa aja yang ikutan gabung dalam tim” termasuk faktor penentu keputusan masuk tim ato ngga looh. Hehehee. Huaah. Sapa yang tau, kapan lagi bisa presentasi ke Jakarta, memamerkan ide kita.
Banyak banget yang saya pelajari dari kalian. Belajar sabar, belajar semangat sampai akhir, belajar untuk believe in what we do, belajar untuk melihat segala sesuatu dengan lebih dekat dan detail, belajar bahwa di dunia ini somehow tiap orang itu udah perfectly placed – Puja ditempatin jadi yang nyatuin kita, ngingetin kita… Tito ditempatin jadi yang mempercantik yang kita bikin… Andru ditempatin jadi yang memperkaya kita dengan rumus-rumusnya… Saya? Ditempatkan buat menghiburrr kalian semua dengan garingan sayaa. Hohohoo.
Terima kasih teman-temaan. Saya senang sekali bekerja bersama kalian.
Sekarang kita cuma pasir dan kerikil. Tapi besok-besok kita akan jadi mutiara. Asal kita mau stay dalam tiram yang ditugaskan buat membentuk kita.
- cheers to all -


A Bloody Story - The Beginning « Not Just Anybody said
[...] A Bloody Story – The End. [...]
Mantoel Toeink said
Wohohoho.
Jadi penggaring ceritanya si Ernest. Yg presentasi kan dirimu jg, Nest.
Hehe.
meliza766hi said
[quote]
Sekarang kita cuma pasir dan kerikil. Tapi besok-besok kita akan jadi mutiara. Asal kita mau stay dalam tiram yang ditugaskan buat membentuk kita..
[/quote]
luaarr biasa saudari ernest, saudara tito, saudara puja, dan saudara andru..
jempol buat Darah biru
anggriawan said
Like!! *fb mode:on*
kan kamu masih punya kesempatan ikut lagi..
siapa tau, tahun depan lolos ke tahap internasional..
good luck..
TitzZz said
Setuju ama bos anggri…
pasir yang berubah menjadi mutiara…
muohohoho… macam gaull…
ndrewh said
hihihiii…
iya nih, kok postingan ka tasya paling gaul sih…
ada kata2 mutiara-nya… and this is literal…
beneran ada kata “mutiara”-nya…
betul, “sapa aja yang ikutan di tim” emang menjadi faktor penentu…
hore buat kita semuaa
dwinanto said
Walah2, Nest,.
Terkadang, hal yang paling indah dari sebuah perjalanan bukanlah tempat tujuannya, melainkan masa2 selama perjalan ini sendiri,.
Semangat ya,.
atid said
huaahh k ernest..
kata2 mutiarany bener2 okee.., *like this* (fb mode on jugaa)
selamat y buat Darah Biru yg uda masuk semifinal
! jangan ragu mengikuti kompetisi lainnya yaa *lho koq?? ^^*