Don’t Judge A Country Before You Set Foot In It
Ini bukan post tentang kesan saya mengenai hidup di Taiwan (mungkin minggu depan baru saya akan menulis tentang itu
). Post ini bermula dari status salah seorang teman di jejaring sosial yang menyinggung soal jeleknya kapitalisme. Saya langsung mengasosiasikan omelan teman saya itu dengan Amerika. It kind of happens naturally, since some people in Indonesia seem to hate America and it’s capitalism.
Anyway, inti dari status teman saya adalah bahwa karena pendidikan di Indonesia terpengaruh oleh kapitalisme barat, maka anak-anak dari keluarga yang miskin semakin kehilangan kesempatan sekolah.
Hellooo. Kayaknya itu karena pemerintah Indonesianya aja deh yang dodol. Kalau merasa kapitalisme bikin orang miskin ngga bisa sekolah, coba lihat beberapa contoh negara kapitalis. Australia dan Amerika. Semua anak usia sekolah di sana, baik kaya maupun miskin, sekolah tuh. Gratis pula.
To give more emphasis on the example, anak-anak di Amerika diwajibkan sekolah oleh pemerintahnya, dan pemerintah mereka bertanggung jawab atas keputusannya “mewajibkan anak-anak sekolah”. Anak-anak yang miskin diberi transport dan makan siang gratis. Terlepas dari orangtuanya itu warga negara, atau hanya imigran, kalau seorang anak berusia wajib sekolah, maka ia wajib sekolah.
Itu dialami sendiri oleh teman Ibu saya yang pindah ke amerika dengan memboyong anak-anaknya beberapa waktu lalu.
Saya tidak berminat menyoroti soal kapitalisme. Ada orang-orang ekonomi yang lebih pintar soal itu daripada saya. Saya juga tidak berminat membela negara-negara apalah. Wong ndak dibayar ini. Tapi saya menyoroti bagaimana orang-orang bisa dengan gampang mengutuki suatu negara atau bangsa, padahal mungkin mereka belum pernah sama sekali datang ke negara itu atau bicara dengan orang-orang dari bangsa itu.
Ketika saya SMA, saya mendapat kesempatan untuk berangkat ke Eropa dalam rangka pertukaran budaya selama 10 bulan. Saya mengerti bagaimana rasanya kalau ada orang berpandangan yang salah tentang bangsa saya. Tapi di lain pihak, saya juga merasakan bagaimana stereotype yang sering saya dengar tentang bangsa lain dikikis oleh pengenalan saya akan kehidupan bangsa itu. Sebelum berangkat, yang sering saya dengar tentang bangsa Eropa atau bangsa barat adalah : mereka individualistis. Ketika saya tinggal di sana, saya malah terkagum-kagum dengan sikap hidup mereka yang penuh hormat terhadap setiap orang dan masih menjunjung sopan santun dalam keseharian mereka. Kebiasaan menahan pintu bagi orang yang mengikuti di belakang, mengucapkan salam “Selamat Pagi/Siang/Sore” kepada siapa saja saat berpapasan di area pemukiman, ucapan “Selamat Pagi” dan “Terima Kasih” pada supir bus, kondektur, dan siapa pun yang melayani di tempat umum.. Wow. Kayaknya ngga semua orang deh bilang makasih sama supir angkot atau kondektur di Indonesia.
Dan saya bersyukur setiap kali saya ke negara lain, orang-orang yang saya temui ngga pernah menjelekkan atau memandang rendah Indonesia tuh (kecuali negara tetangga lah ya.. mereka mah udah tau bobrok-bobroknya Indonesia, jadi wajar kalau mereka memandang kita sebelah mata. >.<)
Pikiran-pikiran sempit yang tidak didasari oleh fakta tentang orang lain merupakan pemicu konflik yang bisa jadi berujung perang. Kebetulan kita bicara soal pikiran sempit mengenai negara lain. Bagaimana kalau menyangkut agama? Suku? Berapa banyak konflik yang sudah terjadi menyangkut hal-hal itu? Benarkah karena ada pihak yang jelek? Bukankah kebanyakan hanya karana stereotype yang dibuat tanpa berdasarkan fakta?
Tante saya pernah bilang begini, “Kalau punya uang, daripada beli barang, mendingan keliling dunia. Biar pikiran lebih terbuka.”
Dunia ngga butuh lebih banyak konflik. It needs us to use our capabilities in the right way, helping other human beings, regarless their nation, race or belief.
- cheers to all -
Mdh2an tulisan ini bs menyadarkan org2 yg berpikiran sempit & selalu merasa dirinya paling baik. Btw, tante2mu mmg cool ;p
Love this article
❤❤❤
yup.
agree!
orang2 suka ngejudge tanpa kenal lebih dalam & tanpa mengalami sendiri ( jadi curcol gini).
Kaka….. Iyaaaa…. Di Europe orangnya baik-baik…. Lebih ramah bahkan daripada di Indo sendiri! Setuju banged sama yang saling bertegur sapa walaupun ga kenal itu… Pertama kali ke sono juga terkaget-kaget kalo masuk toko selalu disapa, “Hallo!!!” dan berpamitan dengan, “Tschüss!”. Di Indo sih kalo masuk toko (kecuali Circle K), kayaknya ga saling tegur sapa deh antara pembeli dan penjualnya.
Hehehe…. Kalau begitu, ditunggu ya tulisan kaka tentang kesan terhadap Taiwan… ^____^
God bless, ka….
waa, setuju sama tante kaka, nanti kalo uda punya uang, aku berkunjung ke taiwan ya, hehe,
sekalian artikel dari guru besar UI, Bpk Rhenald Kasali,
“Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh. Rasa percaya diri mereka bangkit. Sekembalinya dari luar negeri mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.”
http://rumahperubahan.com/index.php?option=com_content&task=view&id=95&Itemid=57
menurut saya, stereotipe tidak bisa dipungkiri akan tetap ada dan bukannya tidak berguna sama sekali. dengan stereotipe kita bisa sedikit berjaga-jaga terhadap orang yg dihadapi. sisi positifnya kita bisa tahu bagaimana bersikap terhadap orang berdasarkan stereotipe mereka.
soal ngucapin terima kasih ke siapapun itu kembali ke orang2nya, apa diri sendiri ngucapin terima kasih setiap terima sesuatu dari orang lain?
dan individualis ga ada hubungannya dengan mengucapkan terima kasih, salam atau membantu orang dibelakang kita untuk ikut masuk. menurut saya individualis adalah sikap yang menganggap setiap individu sama rata kedudukannya, ga peduli dia punya dukungan berapa puluh/ratus/ribu orang (komunal). salam, terima kasih dan lain2 itu didasarkan karena orang tsb memandang orang lain sama pentingnya dan sama terhormatnya. mungkin itu yang membedakan di indonesia, karena sifat komunalnya maka yg lebih besar masanya dianggap lebih tinggi; karena itu pula banyak penjilat di indonesia.
*mampir ke sini dari tautan yang muncul di akun facebook basar*
wah mungkin perlu diperjelas, bahwa individualis yang saya maksud di sini cenderung ke arah sikap “loe-loe, gue-gue”. mgkn istilah yg saya pakai kurang tepat, tapi saya rasa dari penjelasan saya dalam tulisan saya pasti nangkaplah point yang mau saya sampaikan tentang individualis itu apanya.
anyway, apapun itu, saya rasa di seluruh dunia tetap ada nilai-nilai universal yang kita sama-sama setuju bahwa seharusnya itu dilakukan (ucapan terima kasih, salam sapa, dsb), terlepas dari bagaimana latar belakang budayanya.
http://www.jawaban.com/index.php/news/detail/id/90/news/110819145637/limit/0/Paus–Sistem-Ekonomi-yang-Hanya-Kejar-Laba-Penyebab-Krisis-Eropa.html
for 2nd opinion, lets fokus to the sistem, and the impact on every thing.
Aniway you are right when you said that Indonesia is ‘dodol’ because I think, Indonesia is more capitalist and liberalist in economic, than america or europe.