Saya menonton film Enchanted sendirian di kamar. Hehe. Kesannya kok infonya ngga penting banget. Masalahnya, kalau menonton sendirian di kamar, biasanya saya malas menonton penuh dari awal sampai akhir (kecuali kalau film yang saya tonton adalah film seri komedi seperti Friends, the Simpsons…). Biasanya saya akan menonton 10’ pertama, kemudian menggeser progress bar di bawah layar sampai pertengahan film, lalu beberapa menit kemudian mengintip ending filmnya. Kalau happy ending, saya akan kembali ke awal, dan menonton dengan benar. Kalau endingnya menyedihkan (apalagi menyeramkan), saya akan batal nonton. Hehe.
Nah, Enchanted termasuk film yang berhasil membuat saya menonton dari awal sampai akhir. Film ini mengingatkan saya akan mimpi saya sendiri (dan sepertinya mimpi banyak cewek lainnya juga
). Bertemu the one man from whose ribs I was created, marry him, dan live happily ever after together. Meskipun katanya jumlah perempuan di dunia ini lebih banyak daripada yang laki-laki, saya masih percaya setiap orang diciptakan dengan tulang rusuknya masing-masing (yaiyalah, masa rusuknya minjem??).
Masalahnya, dunia ini kan ngga seperti fairy tale, yang dalamnya pencarian jodoh terlihat mudah. Tinggal menunggu pangeran mana yang datang menyelamatkanmu ketika kamu diracun nenek sihir, dikurung di menara tertinggi, disiksa seorang ibu tiri kejam, dan bahaya-bahaya lainnya.
Tenang! Ternyata Enchanted ngga hanya menawarkan cerita happy ending à la negeri dongeng, tapi juga menyisipkan pelajaran-pelajaran berharga mengenai hubungan.

