Dengan ramainya pemberitaan tentang ledakan tabung gas 3 kg, boleh dong saya sedikit tenang menggunakan tabung gas 12 kg di rumah? Tapi namanya hidup memang ndak bisa diduga-duga. Sore tadi kompor gas di rumah saya toh meledak juga.
Siapa yang nyangka, coba. Tadi pagi ndak ada tuh tanda-tanda something out of the ordinary akan terjadi. Bangun, nemenin ngantar adek ke sekolah, cari sarapan sama ortu dan Swarna, leha-leha dan kerja-kerja dikit di rumah, terus pergi jemput Mama. Abis jemput mama, beli makan dan beli eskrim, kembali pulang.
Sampe rumah, Bapak nanya ke Mama, “Ngga jadi kalian bikin kue?”, soalnya di mobil tadi Mama sempat bilang pengen bikin lapis malang. Tapi Mama udah capek, jadi Mama bilang, “Ntar ajalah. Capek.”
Saya, yang selama ini sangat menantikan berada di Medan karena bisa bebas eksperimen memasak kue (di Bandung ndak ada oven), akhirnya berpikir untuk ajak Swarna masak kue lain sore tadi.
“War, muffin marshmallow yuk.”
Sayang, Swarna pun sedang capek dan pengen baring2 sambil menunggu jam 5 buat menjemput adekĀ kami dari sekolah. Akhirnya, saya buka-buka aja buku-buku resep Mama dan cari resep kue yang paling ndak ribet bahannya. Bolu Coklat.
Bahan disiapkan… Putih telur dikocok sampe kaku… Masukin gula… Lalu kuning telur…
Di tengah-tengah, Mama membantu saya mencari loyang yang ukurannya pas. Kemudian Mama bilang, “Sini Mama aja yang idupin api ovennya. Soalnya belakangan suka susah ngidupinnya.”
Oven sudah menyala… Tiba-tiba sudah waktunya menjemput Boas, adek saya. Awalnya saya ingin ikut, toh si adonan udah hampir selesai. Tinggal nanti masukin tepung dan coklat leleh. Tapi kata Mama, kalo ngga cepat-cepat dimasukin, nanti kuenya bantat. Jadilah saya ndak jadi ikut, agar bisa menyelesaikan si bolu tanpa menunda-nunda.
Singkat cerita, ketika akhirnya kue masuk ke dalam oven, ada tamu yang datang ke rumah. Saya menemani tamu yang dua di ruang depan, dan Bapak menemani tamu yang dua lagi di teras belakang.
Lalalaa… tiba-tiba BOOM! Ada suara ledakan besar, dan suara Bapak dan tamu-tamu di belakang yang ribut.
Panik karena menyadari barusan itu suara kompor meledak, saya lari ke belakang. Bapak baru menyiramkan seember air dengan paniknya ke kompor. Masih terlihat nyala api besar dari tempat gas di dalam kompor. Jantungan, panik, bingung, takut berujung pada saya yang berdiri bengong sementara Bapak dengan cepat menarik selang dari halaman belakang dan mengarahkan air ke kompor di dapur (dapur kami terbuka ke luar).
Lama saya berdiri, bersama tamu-tamu Bapak, melihat Bapak terus menyiram, menunggu dan berharap ngga ada lagi ledakan. Saya ngga ingat apa Bapak atau tamu-tamu tadi mengatakan sesuatu, saya hanya ingat melihat air disiramkan terus ke arah kompor. Terus-terus… Lantai dapur dan teras mulai sedikit banjir oleh air siraman, tapi air tidak berhenti disiramkan ke kompor.
Setelah dipastikan api tidak ada lagi, pelan-pelan tabung gas dikeluarkan dari dapur dan diletakkan di rumput di halaman belakang.
Banyak hal yang saya pikirkan sepanjang sore setelah kejadian tadi. Bapak pun demikian. Sampai tadi ketika mencari makan malam ke luar bersama Mama, Swarna, dan Boas, Bapak masih membicarakan kejadian tadi.
“Apalagi kan kita sering lihat berita tentang ledakan tabung gas 3 kg itu. Jadi tadi begitu meledak, tegang juga jadinya, ” begitu kata Bapak.
Lucunya, ketika makan malam tadi, ada pengamen yang datang dan lalu menyanyikan lagu demikian.
Bagi saya sendiri, lagu ini menyimpulkan semua yang saya rasakan tentang kejadian tadi sore. Aneh, tapi bagi saya ledakan kompor gas tadi sore merupakan bentuk pekerjaan Tuhan yang tak terselami dan sungguh tepat pada waktu-Nya.
Terbayangkah apa jadinya kalau tadi kompor meledak saat Mama menyalakannya? Puji Tuhan, Ia tidak mengizinkan itu terjadi.
Apa jadinya kalau kompor itu meledak besok-besok, ketika saya atau bahkan pembantu rumah tangga kami sedang sendiri di rumah? Puji Tuhan, Ia izinkan Bapak ada bersama kami tadi.
Ia izinkan Bapak tadi duduk di teras belakang, persis menghadap dapur, sehingga bisa cepat meresponi ledakan yang terjadi.
Mungkin terlalu lancang saya seolah mereka-rekakan apa yang dimaksud dan direncanakan oleh Tuhan lewat kejadian tadi. Saya bukanlah manusia hebat, dan bahkan manusia hebatpun tak satupun mampu menyelami jalan dan pikiran Tuhan. Tapi satu yang saya tahu, dan semakin menguatkan saya sejak sore tadi. Tak habis-habisnya kasih dan rahmat-Nya. Selalu baru dan tak pernah terlambat pertolongan-Nya, bagi saya, keluarga saya, dan kita semua.
“Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mzm 124:8)
- cheers to all -