Hadiah Merdeka buat Ompung*

Kemarin Indonesia genap 65 tahun mengalami kemerdekaan, independency. Genap 65 tahun bebas menentukan sendiri arah yang hendak dituju sebagai suatu bangsa. Genap 65 tahun diakui sebagai suatu negara yang berdaulat.

Meskipun lingkungan tempat tinggal saya tergolong adem ayem dalam menyambut HUT RI tahun ini, toh saya merasa tahun ini HUT RI tetap berwarna. Beragam macam tulisan dan status dari orang-orang memenuhi situs-situs internet, mengekspresikan perasaan masing-masing atas HUT RI ke-65. Ada yang memanjatkan doa syukur atas kemerdekaan yang sudah sekian lama ini, ada yang mengingat kembali betapa masih banyak orang-orang yang belum “menikmati” kemerdekaan dari kemiskinan dan penderitaan, ada yang berharap semangat nasionalisme ngga cuma ramai dibicarakan di hari kemerdekaan saja, ada yang menyemangati kaum muda untuk terus membangun Indonesia, ada pula yang dengan gamblang mengatakan malu atas kondisi Indonesia dan tidak ingin berpura-pura bahagia atas 65 tahun kemerdekaan negeri ini.

Saya sendiri tahun ini mendapat pandangan yang sedikit berbeda dan menyentil mengenai 65 tahun kemerdekaan Indonesia. Kemarin di tengah hari tenang saya di rumah, saya melihat kakek dan nenek saya menonton pelaksanaan upacara bendera dari televisi. Dengan tenang mereka menonton sambil sesekali membahas apa-apa yang tampak di layar kaca saat itu.

Saya jadi berpikir, bagaimana ya perasaan mereka melihat perjalanan bangsa ini? Berhubung kakek saya umurnya sudah 80an, kakek saya termasuk orang yang mengalami apa yang disebut kondisi penjajahan, perjuangan, proklamasi kemerdekaan, orde lama, G30S/PKI, orde baru, reformasi sampai sekarang… apa ya sebutan untuk era sekarang?

Sejenak saya teringat komentar-komentar yang sering dilayangkan kakek dan nenek saya selama ini, mengenai berita nasional yang mereka tonton di televisi. Kakek dan nenek saya termasuk orang-orang yang rutin menonton berita. Televisi rumah ada di ruang makan, dan jam makan malam kami selalu berbarengan dengan acara berita sore. Sudah pasti berita sore jadi tontonan rutin kalau makan malam. Bukan hanya itu saja. Karena kakek dan nenek saya lebih banyak berada di rumah, mereka juga rajin menonton tayangan macam Buser, Reportase, dan sebagainya.

Tak jarang kakek dan nenek saya berkomentar mengenai kriminalitas yang semakin tinggi (ini pasti kalo abis nonton Buser ato Bang Napi hehee), semakin sulitnya mencari pekerjaan, pemerintah dan masyrakat yang semakin ngga punya hati nurani (ini biasanya abis nonton berita sejenis janda-janda pahlawan yang diperlakukan seperti orang jahat, atau bapak yang membunuh anaknya sendiri)… Bahkan pernah juga kakek saya sampai heran, “Apa sih Facebook itu?” “Apa BB itu?”, karena mendengar berita heboh tentang penculikan lewat Facebook dan isu pemblokiran BB. Kadang keluar juga komentar dalam bahasa Batak yang kalau diterjemahkan kira-kira artinya, “Sudah ke laut Indonesia ini.”

Kemarin melihat kakek dan nenek saya nonton upacara dari televisi, hati saya sempat sedih. Kakek dan nenek saya pasti sudah merasakan gimana susahnya mendapat kemerdekaan itu. Apa mereka pantas melihat kondisi Indonesia yang seperti ini? Pasti dalam masa-masa memperjuangkan kemerdekaan, juga melalui revolusi (G30S/PKI), ada sanak-saudara atau tetangga mereka yang mereka lihat harus meninggal dalam berjuang. Atau mungkin mereka sendiri pernah merasakan situasi mengancam dan tidak aman karena kondisi perang atau revolusi. Apakah semua kesusahan yang sudah dilalui itu, dengan harapan bisa melihat bangsa ini benar-benar berdiri sebagai bangsa yang membanggakan, apakah semua kesusahan itu lantas layak untuk dibayar dengan berita mengenai korupsi, diskriminasi agama, penderitaan dan keterbelakangan orang-orang di pelosok dan masih banyak lagi berita lainnya??

Kakek saya kemarin komentar, “Lihatlah negara X, mereka baru merdeka empat puluh tahun, tapi sudah jauh lebih maju daripada Indonesia.”

65 tahun kemerdekaan Indonesia. Dan apa yang sudah kita tunjukkan pada orang-orang tua kita yang masih bertahan untuk melihat hasil dari perjuangan mereka? Mungkin kalo ngomongin menghargai perjuangan para pahlawan, rasanya terlalu mengawang-awang. Siapa Jenderal Soedirman, siapa Ki Hajar Dewantara, saya ngga kenal. Tapi kakek dan nenek saya, kakek dan nenek Anda, termasuk dalam jajaran orang-orang yang mungkin namanya tidak bisa dicatat satu per satu, tapi sudah ikut berdoa dan berjuang bagi kemerdekaan dan kemajuan bangsa ini.

Apa penghargaan yang sudah kita berikan pada mereka? Tugu? Nama jalan? Hening cipta 5 menit?

Mereka pantas melihat lebih dari kita.

Semangat untuk tahun-tahun berikutnya Indonesia masih merdeka. :)

– cheers to all –

*Ompung artinya kakek. :D

Advertisements

One thought on “Hadiah Merdeka buat Ompung*

  1. wah, betul juga ya kak…

    kita terkadang terlalu jauh melihat dan berencana serta kumandang sana sini sehingga yang ada adalah kita hanya berangan – angan.

    Mari berjuang di bidang kita dan menunjukkan bahwa kita cinta Indonesia.

    thx buat tulisannya kak. :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s