4 Things My Dad Has Taught Me

We never really celebrate father’s day at home, but… time has made me realize that no one can pull off being MY dad as well as my dad. Hahaa.

4 things my dad probably doesn’t remember having taught me, but have stayed with me and helped me live a happier life xDDD

1. You decide if a success/failure drag you down or bring you up.

It was just a casual conversation after dinner. I was still in junior high. And my parents began to talk about how some of their friends in college got mental disorders (a.k.a turned cray-cray) because they were too stressed out for not performing as well in college as they expected. They were the best students in their high school (some even the best in their entire home state), but when they got to college, they were shocked by the tough competition and ended up being so stressed that they lost their mind. >.<  Continue reading

Tentang Kartu Kredit

Saya agak tergelitik melihat bagaimana pandangan orang-orang tentang pemakaian kartu kredit (yang tentunya banyak dilontarkan akibat berita tentang seorang nasabah kartu kredit yang ramai beredar akhir-akhir ini). Saya ngga berniat membahas tentang berita tersebut, tapi tertarik membagi sedikit pendapat saya tentang pemakaian kartu kredit.

Saya dulu menganggap punya kartu kredit itu berbahaya, hanya akan membuat pemiliknya konsumtif dan hidup dalam belitan hutang. Nyatanya kondisi hidup konsumtif dan belitan hutang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kepemilikan kartu kredit. Kedua kondisi itu disebabkan oleh pilihan yang kita buat sendiri.

Saya banyak belajar tentang pemakaian kartu kredit dari mama dan dari acara Oprah Winfrey. Saya sendiri mulai memakai kartu kredit sejak tahun lalu. Pesan tiket pesawat online, dapat penawaran diskon khusus di tempat-tempat tertentu, bayar uang pendaftaran ke salah satu universitas di Australia… Saya secara pribadi merasa sangat terbantu oleh kartu kredit yang saya miliki. Dan tiap bulan, saya ngga pernah punya hutang tuh. Kenapa? Karena secepatnya setelah transaksi, ketika saya lewat ATM, saya langsung bayarkan jumlah transaksi kartu kredit yang telah saya lakukan.

Apa gunanya dong punya kartu kredit kalo begitu? Kartu kredit itu kan ngga berfungsi buat menghilangkan kewajiban kita membayar, hanya memudahkan saja ketika kita tidak bisa bertransaksi langsung secara tunai atau adanya kesulitan transaksi antar bank-nya customer dengan bank tujuan pembayaran. Plus, kadang memberi fasilitas tambahan seperti diskon, atau makanan gratis di lounge-lounge airport. :D Tetap saja kita harus bayar apa yang memang menjadi hutang kita, dan supaya kita ngga keburu dijerat beban bunga yang berlebihan, yaa ketika tagihan datang (atau bahkan sebelum tagihan datang), kalau uangnya sudah ada, bayarlah langsung. Atau setidaknya bayar jumlah minimum pembayaran tagihan setiap bulan. Jangan hidup dalam ilusi bahwa kita ngga punya “kewajiban” bayar apapun terhadap siapapun.

Yang saya lihat sih, orang seringkali ngga mendapat informasi yang benar mengenai kartu kredit. Biasanya mereka hanya mendapat informasi tentang kemudahan dan manfaatnya, tapi tidak di-warning tentang konsekuensi dan tanggung jawab yang mengikuti. Orang tahunya tinggal gesek, ngga tahu soal gimana hitungan pertambahan bunganya, berapa jumlah minimal yang sebaiknya dibayar setiap kali tagihan datang, dan seterusnya.

Saya ngga akan berpanjang-panjang tentang itu di sini. Tapi yah.. just thought I should state that credit cards are not bad. Kebiasaan kita ingin hidup gampang dan serba mewah-lah yang bikin kartu kredit jadi jelek.

Ngga ada barang yang jelek. Yang ada watak manusia yang memakainya yang jelek. :-P

– cheers to all –

Let’s Face Our Giants

Ini potongan video dari film Facing The Giants, salah satu film favorit saya. Bagian ini selaluu bikin saya merinding, atau paling ngga mata berkaca-kaca. Hehee. Mungkin karena pesannya sangat dalam dan sangat menegur saya.

Saya termasuk orang yang sering berhenti karena takut ngga mampu. Kemarin waktu tiba-tiba diminta bikin prototipe aplikasi untuk tugas akhir saya, saya langsung lemes. Hahaa. Secara saya ngga sukaaa ngoding. Tapi namanya TA, ndak bisa ndak dikerjakan toh. Saya ngga punya alasan buat berhenti. >.<

Kemarin waktu persiapan seminar, saya ditegur soal ketakutan saya. Katanya, kalau Tuhan udah ngasih kamu TA seperti ini, dan seminar tanggal 6 Mei, pasti karena Ia tahu kamu akan bisa melaluinya. Gyaaaa.

Ditambah dengan nonton video ini, saya semakin tertegur, bahkan tertampar. Hehee. Berhenti di tengah, menyerah, lari dari masalah, apa pun itu namanya, berarti kurang percaya akan penyertaan dan pertolongan Tuhan.

What is your giant? Apa ketakutan/pergumulanmu yang paling besar saat ini? Percayalah bahwa kamu bisa menghadapinya, bahkan lebih lagi daripada itu. Bisabisabisabisa. Jangan berhenti berusaha, sebelum kamu yakin sudah memberikan yang terbaik.

Dedikasi buat teman-teman sesama pejuang semester-semester akhir. Entah yang mau seminar, yang baru mulai lanjut lagi TA-nya, yang mau ngumpulin duit buat ke Filipina (LOL), yang baru sembuh dari sakit, dan perjuangan-perjuangan lainnya. Huehee. Ayo semangat semua!! :)

– cheers to all –

Men-TOEFL (iBT)

Ah. Akhirnya kelar juga test yang satu ini.

Awal Maret yang lalu saya daftar online di ets.org untuk tes TOEFL. Ada pilihan paper-based dan internet-based test. Karena mikir internet itu keren dan canggih, saya pun memilih internet-based. Pas banget ada tes tanggal 10 April 2010 di TBI. Ada rentang waktu sebulan buat belajar dan tempat tesnya ngga jauh pula.

Ternyataa sodara-sodaraaa tanggal 10 April bertepatan dengan wisuda April kampus ter-*uhuk-uhuk*, ITB. Panik pertama datang. Gimana caranyaa bisa tes TOEFL dan ke Sabuga tepat waktu untuk ngucapin selamat ke teman-teman sayaa? (teman SMA saya ada lima looh yang wisuda. *senang, senang*)

Panik kedua muncul kira-kira dua minggu sebelum test. Dengan ngga-mikir-panjangnya, saya beranggapan bahwa TOEFL iBT itu sama dengan TOELF PBT, tapi diberi tambahan tes Speaking. Ternyataa anggapan saya salah!!! TOEFL iBT terdiri atas tes Reading, Listening, Speaking dan Writing. Jadi, ngga ada tes Structure kayak di PBT. Gyaa gyaa. Biaya ikut test ini kan tergolong ngga sedikit, jadi pengennya paling ngga lolos garis amanlah kalo ikut. Darimana belajarnyaaa?

Pertama, saya buka TOEFL iBT Sampler yang disediain oleh ETS waktu saya pertama kali daftar untuk test. Sampler ini nyediain simulasi test iBT, tapi dibatasi. Yang seharusnya Reading Section ada tiga artikel, jadi cuma satu. Listening yang seharusnya ada sembilan audio files, jadi cuma dua, dan seterusnya. Sampler ini ampuh memberi kita gambaran nyata gimana bentuk test iBT, mulai dari tingkat kesulitan bacaan, bentuk conversation/lecture yang bakal kita hadapi di Listening, sampai tipe pertanyaan yang bisa muncul untuk Speaking dan Writing Section. Sampler ini juga pake timer, jadi kita langsung dihadapkan pada situasi test mini. Nah, hanya ada satu peringatan kalau kita mau buka Sampler ini. Sampler ini didesain untuk sekali pakai alias setiap section test cuma bisa dicoba sekali. Sebaiknya Sampler ini langsung dikerjakan sampai selesai, mulai dari Reading sampai Writing. Jangan asal ngeklik tombol keluar. Waktu itu, karena bosan, saya asal ngeklik tombol keluar di tengah-tengah bagian Writing, dan alhasil ngga bisa balik lagi.

Ada beberapa situs yang lumayan oke nyediain contoh-contoh soal untuk test iBT ini. Waktu googling sih, saya lebih fokus nyari contoh-contoh soal untuk Speaking sama Writing Section. Personally, saya sangat terbantu dengan melakukan latihan-latihan Speaking beberapa hari sebelum test. Latihan ini terutama untuk membantu mengatur cara nyampein pendapat dengan teratur dalam batasan waktu yang ditentukan (45-60 detik, tergantung tipe pertanyaannya). Setelah test tadi, saya rasa latihan membaca cepat artikel di layar komputer juga akan sangat membantu. Kecepatan membaca teks di layar komputer kan sedikit lebih lambat daripada kecepatan membaca dari kertas.

Saya senang akhirnya selesai juga test tadi. Ternyata waktunya ngga selama yang dibayangkan. Sekitar 3,5 sampai 4 jam saja. Huehehee. Tinggal nunggu test scorenya online tiga minggu lagi. Semoga hasilnya baguus. :D

– cheers to all –

Melepas Kacamata

Wiii.. Judul post ini bukan berarti minus lima saya udah sembuh dan wajah saya bisa free of lenses lagi. *meskipun sangat ingin…

Ceritanya, minggu lalu saya lagi dalam perjalanan ke kampus. Tiba-tiba angkot distop dan dua orang wanita naik bersama seorang anak laki-laki. Salah satu dari wanita tadi duduk di bangku “artis”, alias bangku yang dekat pintu dan menghadap kaca belakang angkot. Hehekh. *entah dari mana saya dapat istilah bangku “artis”… kayaknya dari teman.

Nah, kebiasaan saya ngeliatin dan ngupingin (sambil ngomentarin dalam hati) orang-orang di angkot pun mulai berada dalam mode ON. Dari gayanya yang ngobrol terus sama si anak, saya mulai nebak-nebak apa mungkin wanita di bangku artis tadi adalah bibinya. Mukanya sih keliatan ramah. Trus kayaknya familiar gitu… Apa ada artis yang mirip ama dia ya? *ada juga dia kaleee yang mirip artis…

Tiba-tiba dia membuat sebuah gesture. Dia membetulkan letak kacamatanya. Dan apa yang terjadi sodara-sodara..!?

Continue reading